Perkembangan Teori Ekonomi

Perkembangan Teori Ekonomi

Halo frens! Bagaimana kabarnya hari ini? Alhamdulillah, Luar Biasa, Allahu Akbar. Semoga tetap sehat fisik maupun mental, dan senantiasa diberi kemudahan semua urusan ya! Amin.

Oke kemarin seperti biasa dapat tugas dari dosen hehehe. Kali ini disuruh ngrangkum teori ekonomi dari klasik sampai post keynesian. Ya kira-kira seperti ini urutan singkatnya.

Jika kalian ada tugas yang sama, atau hanya sekedar ingin tahu gimana sih perkembangannya? Bedanya apa sih? nah disini sudah saya kumpulkan jadi satu dari berbagai referensi.

OK… Selamat meng iqro-iqro ria hehehe

Teori Ekonomi Klasik

Aliran klasik muncul pada akhir abad ke 18 dan permukaan abad ke 19 yaitu dimasa revolusi industry, dimana suasana waktu itu merupakan awal bagi adanya perkembangan ekonomi. Ekonomi klasik awalnya dicetuskan oleh Karl Marx untuk merujuk pada ekonomi Ricardian, aliran ekonomi yang dikembangkan oleh David Ricardo dan James Mill serta pendahulunya.

Ekonomi klasik menyatakan bahwa pasar bebas akan mengatur dirinya sendiri jika tidak ada campur tangan dari pihak apapun. Adam Smith menyebutnya dengan metafora “tangan tak terlihat“, yang akan menggerakkan pasar menuju keseimbangan alami mereka tanpa adanya campur tangan dari luar.

Dasar Filsafat Mazhab Klasik

Mazhab klasik dipelopori oleh Adam Smith (1732 – 1790), tercermin dalam bukunya “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nation” yang dianggap sebagai ibu dari kelahiran ilmu ekonomi. Prinsip utama dalam mazhab klasik adalah kepentingan pribadi (self interest) dan semangat individualisme (laissez faire). Kepentingan pribadi merupakan kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi dan kekuatan untuk mengatur kesejahteraannya sendiri, Berdasarkan prinsip tersebut para penganut mazhab klasik percaya bahwa sistem ekonomi liberal atau sistem di mana setiap orang betul-betul bebas untuk melakukan kegiatan ekonomi apa saja bisa mencapai kesejahteraan masyarakat secara otomatis. System ekonomi liberal menganggap bahwa campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi sangat kecil, bahkan tidak ada.

Dalam mazhab klasik, system ekonomi liberal dapat menjamin tercapainya:

  1. Tingkat kegiatan ekonomi nasional yang optimal (full employment level of activity)
  2. Alokasi sumberdaya, baik sumberdaya alam maupun factor-faktor produksi lainnya di dalam berbagai kegiatan ekonomi secara efisien.

Esensi teori ekonomi klasik adalah bahwa suatu perekonomian liberal mempunyai kemampuan untuk menghasilkan tingkat kegiatan (Gross Domestic Product) yang full employment secara otomatis (self regulating). Pada suatu waktu tertentu GDP mungkin saja berada dibawah atau diatas tingkat full employment, tetapi akan segera kembali ke tingkat full employment semula. Kaum klasik berpendapat bahwa, hal tersebut disebabkan oleh “invisible hand”.

Pasar Barang

Menurut aliran klasik, di pasar barang tidak mungkin akan kekurangan produksi atau kelebihan produksi dalam jangka waktu lama. Jika pada suatu waktu terjadi kelebihan atau kekurangan produksi, maka mekanisme pasar akan secara otomatis mendorong kembali perekonomian tersebut pada kondisi dimana tingkat produksi total masyarakat (penawaran agregat) akan memenuhi permintaan total masyarakat (permintaan agregat), disebut dengan kondisi keseimbangan atau ekuilibrium. Hal tersebut berdasarkan atas kepercayaan kaum klasik yang menganggap bahwa di dunia nyata ini:

  • Berlaku hokum say (Say’s Law) yang mengatakan bahwa “Setiap barang yang diproduksikan selalu ada yang membutuhkannya (Supply creates its own demand)”, dan
  • Harga-harga dari hamper semua barang dan jasa adalah fleksibel, yaitu dapat dengan mudah berubah (naik atau turun) sesuai dengan permintaan adan penawaran.

Aliran klasik berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu ikut campur atau intervensi apapun dalam kegiatan ekonomi. Kalau terjadi resesi atau depresi, kita cukup menunggu saja sampai perekonomian tersebut melakukan proses penyesuaian, dan keseimbangan pasti akan kembali terjadi.

Pasar Tenaga Kerja

Kaum klasik menganggap bahwa di pasar tenaga kerja, seperti halnya di pasar barang, apabila harga tenaga kerja (upah) cukup fleksibel maka permintaan tenaga kerja selalu seimbang dengan penawaran tenaga kerja. Dalam teori klasik, tidak ada kemungkinan timbulnya pengangguran sukarela. Artinya, semua orang yang bersedia bekerja pada tingkat upah riil pasar tenaga kerja tersebut akan memperoleh pekerjaan.

Dengan demikian, mereka yang menganggur adalah mereka yang tidak bersedia bekerja pada tingkat upah yang berlaku, disebut dengan pengangguran sukarela. Pengangguran sukarela itu hanya berlangsung sementara sejalan dengan proses penyesuaian dalam pasar barang. Pada saat jumlah barang berada pada posisi keseimbangan, maka posisi full employment tercapai kembali. Pada keadaan demikian, semua angkatan kerja dapat bekerja pada tingkat upah riil yang sama.

Pasar Uang

Kaum klasik memiliki teori permintaan akan uang yang cukup terkenal, yaitu teori kuantitas. Teori kuantitas mengatakan bahwa masyarakat memerlukan uang tunai untuk keperluan transaksi tukar menukar (jual beli barang & jasa), bukan untuk tujuan lain. Menurut kaum klasik karena uang tidak bisa menghasilkan apa-apa kecuali hanya untuk mempermudah transaksi, maka uang yang diminta oleh masyarakat hanya sebanyak jumlah yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk membiayai proses transaksi mereka. Jadi, semakin banyak transaksi yang dilakukan oleh masyarakat, semakin banyak pula uang tunai yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut.

Volume transaksi di dalam masyarakat tergantung pada dua hal, yaitu: (1) volume barang/jasa yang diproduksi masyarakat (yang diukur dengan GDP riel atau GDP pada harga konstan), dan (2) tingkat harga umum. Semakin besar GDP diharapkan semakin banyak transaksi yang dilakukan oleh masyarakat dan semakin tinggi harga umum semakin banyak uang tunai yang dibutuhkan untuk menutup setiap transaksi. Jadi, penawaran uang (MS) ditentukan oleh kebijakan moneter. Oleh karenanya, variabel ini disebut variabel eksogen, yaitu variabel yang nilainya ditentukan oleh unsur di luar sistem persamaan. Permintaan uang, M= k PQ, dimana k = suatu konstanta;  Q = GDP riel; P = harga umum.

Dalam jangka pendek k tidak berubah. Q atau GDP riel ditentukan di pasar barang, dan tingkat Q yang normal adalah Q pada tingkat full employment. Dengan demikian Q ditentukan diluar pasar uang, sehingga dapat dianggap sesuatu yang mendekati suatu konstanta (ditentukan sebelumnya). Ini berarti bahwa penawaran uang tidak mempengaruhi tingkat output nasional. Mekanisme pasar akan menyamakan penawaran uang dengan permintaan uang, sehingga dapat ditulis dalam persamaan :

                                        MS = MD = kPQ

Pasar Luar Negeri

Di pasar luar negeri, kaum klasik juga menganut pandangan bahwa dunia secara otomatis mengoreksi ketidakseimbangan. Implikasi dari pandangan ini adalah bahwa suatu perekonomian nasional tidak perlu merepotkan diri untuk menyeimbangkan neraca perdagangan mereka dengan kebijakan-kebijakan khusus, asal pemerintah mau memakai salah satu dari sistem pembayaran luar negeri di bawah ini:

  1. Sistem Standar Emas : yaitu sistem yang memberlakukan uang dalam negeri (misalnya rupiah) dijamin dengan emas. Artinya setiap satuan uang tersebut (misalnya satu rupiah) selalu dapat ditukar dengan emas murni seberat x gram di Bank Sentral.
  2. Standar Kertas dan Kurs Devis yang fleksibel : yaitu sistem keuangan dalam negeri yang dapat menggunakan standar kertas atau menggunakan uang kertas yang tidak dijamin dengan emas, dan harus menganut sistem kurs devisa mengambang.

Asalkan semua negara memakai standar emas maka setiap perekonomian nasional akan mempunyai suatu sistem neraca perdagangan yang dapat mengoreksi ketidakseimbangan secara otomatis.

Neo Klasik

Neo-Klasik adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan beberapa aliran pemikiran ilmu ekonomi yang menjabarkan tentang pembentukan harga, produksi dan distribusi pendapatan melalui mekanisme permintaan dan penawaran pada suatu pasar.

Pendapat neo-klasik mengenai perkembangan ekonomi dapat disimpulkan seperti berikut ini:

  1. Adanya akumulasi kapital merupakan faktor penting dalam perkembangan ekonomi. Menurut neo-klasik, tingkat bunga dan tingkat pendapatan menentukan tingginya tingkat tabungan. Pada suatu tingkat tertentu, tingkat bunga menentukan tingginya tingkat investasi.
  2. Perkembangan merupakan proses yang harmonis dan kumulatif. Proses perkembangan meliputi semua faktor yang terlibat tumbuh bersama.
  3. Adanya aspek internasional dalam setiap perkembangan. Dengan adanya pasar yang luas akan memungkinkan produksi sebesar-besarnya sehingga produktivitas semakin meningkat.
  4. Perkembangan merupakan proses yang gradual. Perkembangan merupakan proses yang bertahap dan berlangsung terus menerus.
  5. Aliran neo-klasik merasa optimis terhadap perkembangan ekonomi. Aliran sebelumnya (aliran klasik) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi terhambat karena terbatasnya SDA, sedangkan aliran neo-klasik yakin bahwa manusia mampu mengatasi keterbatasan tersebut.

Beberapa ciri-ciri teori ekonomi neo-klasik adalah :

  • Perkembangan faktor-faktor produksi dan kemajuan teknologi merupakan faktor utama yang akan menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi pada suatu masa tertentu dan perkembangannya dari waktu ke waktu lainnya
  • Pemerintah sudah ikut campur tangan dalam perekonomian negara
  • Sudah diterapkannya sistem pajak dan kemungkinan akan terjadi inflasi
  • Melihat bagaimana setiap faktor produksi dan perkembangan teknologi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
  • Menganalisis sumbangan dari perkembangan stok modal dan perkembangan teknologi dalam pembangunan ekonomi.

Teori Keynesian

Aliran Keynesian yang dipelopori oleh John Maynard Keynes muncul untuk mengatasi krisis yang melanda Eropa pada 1930-an pasca perang Dunia I. Pada saat itu teori klasik dan neoklasik sudah tidak mampu lagi menjelaskan fenomena yang terjadi dan mengatasi krisis yang dihadapi. Bukunya “The General Theory of Employment, Interest and Money” merekomendasikan agar perekonomian tidak begitu saja diserahkan kepada mekanisme pasar, namun diperlukan peran pemerintah dalam sistem perekonomian, yang justru dalam teori klasik dan neoklasik peran pemerintah diharamkan.

Dasar Filsafat Teori Keynes

Inti dari ideologi Keynesianisme adalah untuk mengatasi masalah krisis ekonomi, pemerintah harus melakukan lebih banyak campur tangan secara aktif dalam mengendalikan perekonomian nasional. Kegiatan produksi dan pemilikan faktor-faktor produksi masih dapat dipercayakan kepada swasta, tetapi pemerintah wajib melakukan kebijakan-kebijakan untuk mempengaruhi perekonomian. Misalnya, dalam masa depresi pemerintah harus bersdia melakukan kegiatan-kegiatan yang langsung dapat menyerap tenaga kerja yang tidak dapat bekerja pada swasta, walaupun hal ini dapat menyebabkan defisit dalam anggaran belanja negara. Dalam hal ini Keynes tidak percaya pada sistem liberalisme yang mengkoreksi diri sendiri, untuk kembali pada posisi full employment secara otomatis. Full employment hanya dapat dicapai dengan tindakan-tindakan terencana, bukan datang dengan sendirinya.

Pasar Tenaga Kerja

Berbeda dengan teori klasik yang menganggap permintaan dan penawaran terhadap tenaga kerja selalu seimbang (equilibrium) karena harga-harga fleksibel, maka menurut Keynes pasar tenaga kerja jauh dari seimbang, karena upah tidak pernah fleksibel, sehingga permitaan dan penawaran hampir tidak pernah seimbang sehingga pengangguran sering terjadi. Menurut Keynesian pengangguran bisa terjadi terus menerus dan jenis pengangguran tersebut ada tiga macam:

  1. Pengangguran karena adanya pergeseran tingkat oputput dari berbagai sektor dan ini bersifat sementara (frictional unemployment).
  2. Pengangguran musiman, yang jumlahnya tergantung dengan musim (seasonal unemployment).
  3. Pengangguran yang “dibuat” (institutional unemployment).

Pengangguran pergeseran (frictional) adalah pengangguran yang disebabkan karena adanya perubahan struktur dalam ekonomi dan orang-orang berpindah dari satu pekejaan ke pekerjaan lain. Masa transisi perpindahan pekerjaan ini menyebabkan timbulnya pengangguran sementara. Misalnya ada suatu industri yang tutup karena tidak efisien lagi untuk diteruskan sehingga orang-orang harus mencari pekerjaan baru. Proses mencari pekerjaan baru memerlukan waktu dan bahkan adakalanya pekerja tersebut harus dilatih kembali untuk memsuki lapangan pekerjaan baru. Contoh lain adalah adanya perpindahan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dan sementara perkerjaan baru belum dapat maka status pencari kerja tersebut adalah pengangguran.

Pengangguran musiman disebabkan karena adanya faktor musim dari suatu jenis pekerjaan. Misalnya di sektor pertanian ada musim puncak, dimana banyak perkerjaan. Dan ada pula musim senggang atau tidak ada pekerjaan sama sekali sehingga petani menjadi menganggur dan mencari pekerjaan lain.

Pengangguran institusinal adalah pengangguran yang timbul akibat adanya kebijakasanaan pemerintah seperti upah minimum yang menyebabkan permintaan terhadap tanaga kerja berkurang. Sementara itu penawaran kerja dari pencari kerja cukup banyak sehinga timbul pengangguran.

Timbulnya ketiga jenis penganguran tersebut diatas disebabkan oleh karena tidak fleksibelnya harga-harga, termasuk harga tenaga kerja (upah) dan lambatnya reaksi rasional dari para pelaku ekonomi sehingga tidak terjadi full employment. Tidak full employment berarti akan ada orang yang tidak mendapatkan pekerjaan.

Pasar Barang

Perbedaan pasar barang menurut Keynesian dengan klasik terletak pada Hukum Say bahwa permintaan sama dengan penawaran sehingga tidak akan terjadi kelebihan atau kekurangan permintan atau penawaran. Menurut Keynesian permintaan barang tidak selalu sama dengan penawaran karena tidak semua income dibelanjakan tetapi sebagian dari pendapatan tersebut akan disimpan dalam bentuk tabungan (saving). Tabungan tidak menambah permintaan efektif terhadap barang dan jasa kalau tidak segera diinvestasikan sehingga akan terjadi kelebihan stok barang atau kelebihan produksi barang (penawaran).

Apa akibat dari ketidakseimbangan permintaan dengan penawaran ini terhadap perekonomian negara? Ada dua akibat yang akan terjadi. Pertama, para produsen akan mengurangi jumlah produksi mereka pada tahun atau periode berkutnya, artinya output atau GDP akan berkurang pada tahun berikutnya. Bila output berkurang maka dampaknya akan sangat serius terhadap variabel makro, karena income lapangan pekerjaan, konsumsi, investasi dan seterusnya akan menurun.  Kedua,akbat dari turunnya GDP dan income, maka harga-harga akan turun karena turunnya permintaan akibat penurunan income.

Apabila harga-harga (harga barang dan harga tenaga kerja) tidak kaku tetapi fleksibel dan turun sebanding dengan penuruan income, seperti yang diasumsikan oleh teori Klasik, maka keadaan ini tidak akan berlangsung lama karena harga yang turun akan kembali mendorong naiknya permintaan (sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran).

Naiknya permintaan akan mendorong produsen kembali menggenjot produksi mereka dan keadaan terpuruk akan segera terkoreksi kembali. Pabrik dan industri tidak akan tutup sehingga para buruh tidak banyak yang kena PHK. Berbeda dengan teori Klasik yang mengasumsikan harga-harga adalah fleksible, kenyataannya menurut Keynes, harga-harga tidaklah fleksible tetapi kaku (rigid), tidak mau turun. Akibatnya permintaan akan turun dan produksi tidak akan naik sehingga ekonomi akan terjebak pada resesi atau depresi.

Keadaan sebaliknya bisa juga terjadi yaitu terjadinya kelebihan permintaan dan kekurangan produksi. Misalnya produsen membuat perhitungan yang optimis dengan menambah investasi sehingga permintaan aggregate naik (ingat investasi adalah komponen Aggregate Demand). Bila kapasitas terpasang pabrik sudah penuh maka tidak akan terjadi peningkatan produksi sehingga produksi berkurang dan sementara permintaan naik. Kenaikan permintaan dan kekurangan produksi ini akan ditransmisikan kedalam inflasi.

Pasar Uang

Perbedaan teori Klasik dan Keynesian dalam hal uang adalah, dan ini yang merupakan perbedaan besar, Keynesian tidak setuju dengan pendapat bahwa permintaan uang hanya ditentukan oleh kebutuhan transaksi dimana transaksi ini dipengaruhi oleh volume barang, harga barang dan kecepatan perputaran uang. Menurut Keynesian permintaan uang ditentukan oleh tiga faktor yaitu:

  1. kebutuhan transaksi (transaction motive)
  2. kebutuhan untuk berjaga-jaga (precautionary motive) dan
  3. kebutuhan untuk berspekulasi (speculation motive) atau investasi.

Untuk kebutuhan transaksi sama dengan pendapat klasik dimana tergantung dengan volume barang, harga dan konstanta. Tetapi untuk dua faktor lagi Keynesian berpendapat bahwa permintaan akan uang juga ditentukan oleh faktor berjaga-jaga dan spekulasi.

Kebutuhan berjaga-jaga adalah suatu kebutuhan untuk mengahadapi situasi yang tidak normal atau darurat, misalnya sakit, kecelakaan atau ada kebutuhan mendadak yang memerlukan uang yang tidak terduga sebelumnya. Jumah kebutuhan untuk jenis ini sama dengan kebutuhan transaksi, yakni tergantung dengan income. Bila dilihat secara prinsip maka kebutuhan jenis ini juga hampir sama dengan kebutuhan transaksi.

Faktor ketiga yang menentukan permintaaan uang adalah spekulasi, berbeda secara significant dengan teori klasik. Kebutuhan spekulasi adalah kebutuhan untuk mencari keuntungan dari permainan resiko dan keberuntungan. Sama seperti teori klasik, menurut Keynes uang tidak memberikan penghasilan apa-apa, misalnya dalam bentuk bunga, sehingga rugi kalau disimpan dalam jumlah yang terlalu banyak. Pada saat teori ini dicetuskan oleh Keynes, uang memang tidak memberikan keuntungan apa-apa kecuali untuk mempermudah proses transaksi sehari-hari. Sebagai alternatif dari memegang uang adalah membeli aset lain seperti obligasi (bonds) yang dikeluarkan pemerintah, karena obligasi memberikan pendapatan berupa bunga.

Dalam perkembangannya sekarang uang telah bisa memberikan keuntungan dalam bentuk bunga bila disimpan di bank, walaupun tidak diinvestasikan ke usaha-usaha produktif tetapi bunganya sangat rendah diandingkan dengan deposito atau investasi lainnya. Kalau uang disimpan di rumah maka tetap tidak akan memberikan keuntungan sedikitpun.

Tingkat keuntungan yang diperoleh dengan menabung di bank memang relatif rendah dibandingkan dengan investasi atau usaha produktif lainnya, tetapi resiko menabung di bank juga rendah. Disamping itu alternatif terhadap memegang uang sekarang bukan hanya obligasi tetapi sudah terdapat berbagai jenis surat berharga yang dapat memberikan bunga yang sangat kompetitif dibandingkan dengan bunga simpanan bank.

Faktor kebutuhan uang untuk spekulasi merupakan perbedaan penting antara teori pasar uang klasik dan Keynesian. Menurut teori Keynesian disamping untuk transaksi, uang diperlukan juga untuk berjaga-jaga (berjaga-jaga hampir sama denga transaksi menurut versi teori klasik) dan untuk berspekulasi. Dikatakan spekulasi karena ada tarik menarik antara keperluan memegang uang dan memegang (membeli) aset yang lain selain uang sebagai ganti memegang uang dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Aset lain yang dimaksud disini adalah aset finansial seperti obligasi atau surat-surat berharga lainnya. Sekarang ini kegiatan spekulasi ini dilakukan di pasar uang dan pasar modal (bursa) seperti di Indonesia Stock Exchange.

Neo Keynesian

Pandangan mereka disebut Keynesian kerena teori mereka merupakan determinasi pemikiran Keynes dan disebut Neo kerena pemikiran Keynes tersebut diperbaharui berdasarkan penelitian empiris yang lebih baru. Neo-Keynes merupakan penerus ajaran Keynes yang banyak berjasa dalam mengembangkan teori-teori yang berhubungan dengan usaha menjaga stabilitas perekonomian. Teori-teori tersebut menjelaskan tentang fluktuasi ekonomi (business cycle) dan teori-teori yang berhubungan dengan pertumbuhan dan pendapatan.

Fluktuasi Ekonomi (Business cycle)

Pada masa sebelumnya, masalah fluktuasi ekonomi ini telah dibicarakan, namun pembahasannya hanya sepintas dikarenakan sudah begitu melekatnnya kepercayaan orang terhadap pemikiran klasik, yang mengatakan bahwa perekonomian akan selalu menuju keseimbangan dan tidak akan terjadi guncangan dalam perekonomian.

Pembahasan tentang fluktuasi ekonomi ini mendapatkan perhatian yang lebih serius pada era sesudah Keynes (Neo-Keynes). Mereka membahas teori fluktuasi ekonomi secara mendalam karena mereka memerlukan teori-teori yang mampu menjelaskan apa yang menyebabkan perekonomian tidak stabil dan yang lebuh penting lagi adalah apa tindakan dan kebijakan yang dapat dilakukan untuk mencegah gerak perekonomian yang berfluktuasi tersebut agar menjadi lebih stabil.

Bagi kaum Neo-Keynes, fluktuasi ekonomi terjadi karena dua penyebab utama. Pertama, terjadinya perubahan-perubahan dalam tingkat investasi dan rendahnya tingkat konsumsi. Kedua, fluktuasi terjadi karena tidak adanya mekanisme koreksi yang mampu mendorong perekonomian pada keseimbangan full-employment, yang disebabkan oleh kakunya harga dan tingkat upah dalam mekanisme penyesuaian. Kerena perekonomian tidak selalu berada pada keseimbangan, sering terjadi fluktuasi. Ketidakseimbangan perekonomian yang berkaitan dengan pengangguran dan inflasi menyebabkan kaum neo-keynesian percaya perlunya intervensi dari pemerintah sebagai langkah koreksi.

Berikut tokoh-tokoh pemikir yang fenomenal dari kaum neo-keynesian:

Alvin Harvey Hansen

Hansen berhasil menyusun secara sistematis serangkaian pikiran dasar Keynes dalam suatu kerangka analisis yang rapi dan utuh. Dia dengan jelas menujukkan hal-hal pokok pada sistem pemikirannya dalam ramifikasinya terhadap kebijakan negara secara langsung dan tidak langsung.

Hansen banyak menjelaskan tentang fluktuasi ekonomi, penyebabnya, dan cara mengatasinya. Menurutnya fluktuasi ekonomi terjadi karena adanya gerak naik turun dan determinan terhadap pendapatan nasional. Karenanya ia banyak mengupas tentang pendapatan nasional. Dan mengaitkan pendapatan nasional investasi, dan kesempatan kerja, dengan fluktuasi ekonomi.

Joseph Schumpeter

Dari masa-masa sebelumnya, pakar pertama yang lebih serius dalam mengembang teori pertumbuhan adalah Schumpeter. Bagi dia, pelaku utama pertumbuhan ekonomi adalah adanya entepreneur. Entrepreneur bukan hanya seorang pengusaha atau manajer, melainkan juga seseorang yang mau menerima risiko dan menghasilkan produk dan teknologi baru dalam masyarakat.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi akan berkembang pesat dalam lingkungan, masyarakat yang menghargai dan merangsang orang untuk menggali penemuan-penemuan baru, seperti lingkungan masyarakat penganut laissez faire. Dalam masyarakat yang demikian, insentif bagi penemuan baru lebih tinggi.

Juga depresi tahun 30-an, menurut Schumpeter, bukan karena kelemahan sistem kapatilis tetapi justru karena kekuatannya, yang pada saat itu perekonomian sedang berada dalam salah satu titik terendah dalam suatu gelombang panjang. Jika ditemukan inovasi dan teknologi baru, perekonomian akan membaik kembali.

Simon Kuznets

Kuznets berperan dalam kegiatan yang bersangkut-paut dengan data statistik yang selanjutnya berkembang menjadi ilmu pengetahuan dengan kerangka analisis berdasarkan teknik dan metode matematika canggih. Kuznets memantau kegiatan ekonomi dalam masyarakat dengan berpangkal pada suatu kerangka perhitungan nasional dengan dilengkapi tentang unsur-unsur komponen dalam pendapatan nasional.

Berkat karya Kuznets tersebut, pengertian-pengertian pokok dalam kerangka teori Keynes dapat diberikan wujud nyata secara kuantitatif-empiris, seperti mengenai hubungan antara pendapatan-konsumsi-tabungan-investasi dalam masyarakat secara agregat. Dan segala sesuatu itu dapat diamati dan dikaji secara berturut-turut sesuai tahapan dalam perkembangan waktu. Hal ini dikenal sebagai time series analysis. Dengan teori ini kita bias menghitung pertumbuhan ekonomi lebih eksak.

Paul Samuelson

Di bawah pengaruh Samuelson, kerangka dasar pemikiran Keynes disempurnakan sampai pada tingkat yang lebih manju dan dalam lingkup pembahasan yang lebih luas.

Ada dua hal yang berjasa dari ulasan Samuelson. Pertama, diperlihatkannya tentang hubungan timbal-balik antara faktor multiplier dan asas accelerator yang berimplikasi bahwa multiplier dan accelerator saling memperkuat perannya dalam jalannya perekonomian secara agregat. Permintaan efektif dari masyarakat dipengaruhi oleh investasi langsung (autonomous investment), yang selanjutnya melalui faktor angka pengganda (multiplier) menyebabkan tambahan pendapatan yang berlipat. Permintaan efektif pun dapat diberi stimulan yang berawal dari pengeluaran konsumen, yang selanjutnya melalui asas accelerator secara tidak langsung menyebabkan bertambahnya investasi (induced investement).

Bidang kedua adalah mengenai lalu lintas perdagangan dan pembayaran internasional. Samuelson memperjelas hubungan antara kebijakan fiskal dengan keseimbangan dalam lalu lintas pembayaran internasional. Hal ini memperllihatkan peranan foreign trade multiplier (dampak multiplier yang berasal dari perdangan luar negeri) dan berbagai kemungkinan penyimpangan dari keseimbangan internasional. Di sini dapat dilihat adanya integrasi mengenai segi ekulibrium internasional ke dalam kerangka umum teori ekonomi makro.

Walt Withman Rostow

Teori pembangunan yang paling terkenal adalah ulasan dari Rostow, yang mengatakan bahwa negara-negara berkembang yang ingin maju harus melalui tahap-tahap pembangunan sebagai berikut.

  • Tahap tradisional statis

Yang dicirikan oleh keadaan IPTEK yang masih sangat rendah dan tidak berpengaruh terhadap kehidupan dan perekonomian pun masih didominasi sektor pertanian-pedesaan. Struktur sosial-politik masih kaku.

  • Tahap transisi

IPTEK mulai berkembang, sehingga produktivitas semakin meningkat dan industri semakin berkembang. Tenaga kerja mulai beralih dari sektor pertanian ke sektor industri, pertumbuhan tinggi, kaum pedagang bermunculan, dan struktur sosial-politik semakin membaik.

  • Tahap lepas landas (take-off)

Dicirikan oleh keadaan suatu hambatan sosial-politik yang umumnya dapat diatasi. Tingkat kebudayaan dan IPTEK semakin maju, investasi dan pertumbuhan tetap tinggi, dan mulai adanya ekspansi perdagangan ke luar negeri.

  • Tahap dewasa

Masyarakat semakin tinggi penguasaan IPTEK, sehingga terjadi perubahan komposisi angkatan kerja di mana jumlah skilled labor lebih banyak daripada unskilled labor. Serikat dagang dan gerakan buruh semakin maju dan berperan. Pendapatan perkapita tinggi.

  • Tahap mass consumption

Masyarakat hidup serba kecukupan, kehidupan aman tentram, dan laju pertumbuhan penduduk semakin rendah.

Proses di atas hanya bisa berlangsung jika dipenuhi beberapa kondisi, seperti pemerintahan yang stabil, adanya perbaikan tingkat pendidikan, adanya kelompok inovator dan wiraswastawan, meningkatnya tabungan dan investasi hingga mencapai 10 persen dari pendapatan nasional, dan adanya reformasi sosial.

Teori Post Keynesian

Dalam pandangannya, teori Post Keynesian sangat percaya kepada tingkat permintaan efektif. Meskipun ini pandangan ekonomi makro, tetapi pada dasarnya dapat diaplikasikan kepada ekonomi perusahaan dan moneter.

Teori post keynesian membedakan antara kebutuhan dan hasrat. Yang dimaksud dengan kebutuhan adalah minum, sementara pilihan antara minum fanta atau coca cola merupakan hasrat, bukan kebutuhan. Menurutnya, neo klasik tidak membedakan antara kebutuhan dan hasrat.

Kemudian adanya subordinasi atau hirarki dalam konsumsi. Dengan kata lain, barang tertentu lebih penting dibandingkan dengan barang yang lain. Hal ini tentu sangat berbeda dengan teori substitusi neo klasik yang mengatakan setiap barang sama dan dapat disubstitusikan dengan yang lain. Konsep subordinasi ini juga mengasumsikan adanya proses dalam ekonomi bahwa pilihan yang sebelumnya menentukan pilihan yang berikutnya.

Teori post Keynesian dalam pandangannya dari sisi produksi, harga tidak diserahkan kepada pasar, melainkan ditentukan oleh perusahaan itu sendiri, baik oleh biaya produksi, maupun secara administrasi dan strategi perusahaan. Oleh karena itu, harga bersifat tidak fleksibel

Teori Post Keynesian setuju dengan Keynes tentang likuiditas, sehingga sangat berbeda dengan neo klasik. Menurutnya, neo klasik tidak membedakan tingkat likuiditas sehingga percaya kepada efek substitusi. Padahal, pada saat terjadi kenaikan tingkat permintaan atas uang atau aset likuid, perusahaan tidak mungkin menambahkan jumlah tenaga kerja. Artinya, uang tidak mungkin disubstitusikan kepada aset lain, seperti misalnya tenaga kerja. Dengan kata lain, pengangguran tidak bersifat suka rela. Hal itu berhubungan dengan dua macam uang dalam pandangan Post Keynesian, yaitu uang yang berasal dari tabungan atau pendapatan dan uang kredit. Keduanya, terutama uang kredit sangat penting dalam menentukan keputusan investasi perusahaan dalam rangka mencapai tingkat permintaan yang efektif. Tingkat kredit berasal dari relasi bank dengan pelaku ekonomi. Dengan kata lain, seluruh penjelasan Post Keynesian tidak memisahkan uang dan produksi atau moneter dengan sektor riil, melainkan uang terintegrasi ke dalam sistem produksi.

Bagi Post Keynesian, harga uang tidak bisa ditentukan oleh Bank Sentral secara artfisial. Karena pada kenyataannya uang ada dalam setiap transaksi, terutama pada pengambilan keputusan tentang investasi oleh perusahaan. Dengan demikian, transaksi tidak secara naif hanya penjual dan pembeli, melainkan meliputi juga sistem perbankan, terutama pada ekonomi modern. Pada pandangan Post Keynesian, tingkat kredit tidak bergantung kepada tingkat cadangan atau tingkat suku bunga. Menurutnya, penciptaan uang ada di dalam ekonomi itu sendiri, yaitu dalam sektor perbankan atau bank komersial.

Daftar pustaka:

http://shevalina13.blogspot.co.id/2013/08/teori-ekonomi-klasik-vs-teori-ekonomi.html

http://waodesh.blogspot.co.id/2014/05/33-pertumbuhan-ekonomi-menurut-teori.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_klasik

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s