Tanpa Judul

foto karo pak taufan

Dari kiri atas ke kanan:

Dita (dari Bekasi), Mayang (Medan), Pritta (Bogor), Sela (TangSel), Hesti (Tangsel), Galuh (Jogja), Liga (Magelang), Pak Taufan, Nadhel (Magelang), Fania (Bandung), Hannan (Bandung), Alen (Medan), Ema (Blora), Aul (Purworejo), Yuni (Banjarmasin), Irene (Medan).

Dari kiri bawah ke kanan:

Haryo (Putra Daerah), Kharis (Solo), Alfian (Tegal), Cakra (Purwokerto), Celvin (Wonogiri), Sultan (Jogja), Naufal (Makassar), Farhan (Jambi), Akmal (Bogor), Saya, Dodi (Palu), Aurik (Serang), Jo (Semarang), Ardan (Solo).

 

Saya dulu waktu SMA adalah anak ipa, yang belajar tentang biologi dan fisika. Setelah saya masuk STAN saya mulai belajar tentang ilmu social yang salah satunya adalah ekonomi ini. Dimana saya menemukan berbagai keindahan dan filosofi kehidupan dalam ilmu ini.

Dosen ekonomi pertama saya adalah pak Taufan Pamungkas Kurnianto, biasa dipanggil pak Taufan. Beliau berasal dari magelang, sekarang bekerja di BKF (Badan Kebijakan Fiskal). Konon katanya beliau adalah kakak kelasnya Liga dan juga pak Acwin (dosen sispeng), wih… keren pokoke kakak kelasmu iki lig!!!. Sesuai dengan pekerjaannya, dosen ekonomi. Dimana ia waktu itu kalo tidak salah masih menjadi pegawai di BKF yang ngurusin tentang masalah perekonomian, maka tidak diragukan lagi ilmunya.

Awal mula bertemu ekonomi sebenarnya adalah saat masih SMA kelas satu, namun waktu itu saya gak menganggap keberadaannya wkwkwk, karena mindset saya waktu itu masih anak biologi dan fisika wkwkw. Di STAN ini awal mula bertemu Ekonomi adalah saat Kharis memberikan buku fotokopian tentang sepuluh prinsip ekonomi yang mana waktu itu saya gak paham sama sekali semua bacaan yang ada disitu. “Ini buku ngomongin apa….” mungkin karena yang diberikan adalah yang dalam bahasa inggris, jadi tambah males bacanya wkwk, sampe suatu hari dimana buku paket pinjaman dari perpus diberikan. Buku mikro ekonomi pada saat semester satu waktu itu adalah karangan Gregory Mankiw, Pengantar Ekonomi Mikro.

Pengantar_Ekonomi_Mikro__Edisi_Asia__N_Gregory_Mankiw

Kegelapan pengetahuan tentang ekonomi tidak hilang begitu saja. Walaupun buku dalam versi Indonesia sudah ditangan, tetapi memahami bacaan didalamnya masih sangat susah. “Ini cuman masalah orang ngambil keputusan (TradeOff) aja kok diomongin sampe berbelit-belit…”. Dalam pikiran saya waktu itu masih menolak semua bacaan yang saya baca. Semua yang saya baca gak ada yang masuk dan gak paham sama sekali.

Pertemuan kuliah pertama yaitu dipagi hari jam set 8 di gedung J203 kalo gak salah. Waktu itu langsung 2 pertemuan (6 SKS), setelah sekian lama menanti untuk bisa kuliah mikro, karena memang pak taufan yang sangat sibuk di BKF. Pada pertemuan itu kita membahas bab I sampe bab… lupa saya wkwk saking mblenger nya enam SKS yang diingat cuman awalnya doang.

Enam sks saya coba lalui dengan bersikap calm, seolah-olah paham, anggukan kepala saja, tebar senyuman berharap tidak ada pertanyaan yang dilontarkan. Tetapi bagaimanapun suatu kegiatan mengajar pasti ada bumbu-bumbu pertanyaan agar siswa-nya gak pasif, dan gak cuman dosen-nya saja yang ngomong. Sampai Beberapa pertanyaan mulai muncul dari sang dosen untuk mencoba memastikan bahwa ilmu yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Disinilah munculnya saat-saat mencekam, “THE MOMENT OF SILENT” istilah yang dipakai oleh pak Taufan ketika seluruh ruangan diam. Namun untunglah ada satu sosok siswa yang selalu bisa menjawab semua pertanyaan tersebut yang hampir semua jawabannya tepat. Dia adalah Ardan Cahya Widayat, anak IPS juara OSN tingkat nasional, dan salah satu teman yang sangat menginspirasi karena wawasannya yang sangat luas.

Beberapa pertanyaan dilontarkan dan selalu bisa dijawab oleh Ardan, bahkan cuman ardan yang bisa menjawab, ya walaupun ada beberapa siswa yang mencoba untuk menjawab namun yang paling sering adalah Ardan ini hehehe… . Semua siswa didalam ruangan waktu itu ibarat bayangan dimana cuman Ardan dan pak Taufan saja yang ada diruangan. Saya berharap semua pertanyaan yang dilontarkan oleh pak Taufan bisa dijawab oleh Ardan, sehingga semua terselamatkan dari The Moment of Silent. Namun enam SKS terlalu lama untuk sebuah Tanya-jawab saja, sampailah dimana latihan soal dimulai. Seluruh siswa dibagi 4 atau 5 orang per kelompok kalo gak salah…, untuk mengerjakan soal di setiap akhir pembahasan.

Waktu itu saya sekelompok dengan yang saya ingat Alfian, sama Alen lainnya lupa (ini juga kalo gak salah) wkwk. Jantung saya berdebar-debar melihat pertanyaan yang dibagikan. Kita membagi tugas untuk menjawab soal-soal. Saya berharap mendapatkan soal yang mudah, seperti pengertian Opportunity Cost lah…, namun waktu itu saya juga gak paham apa itu Opportunity Cost wkwkwk. Masalahnya saya dari awal juga gak paham apa yang dibicarakan. Saya bersikap calm biasa saja, seolah-olah tidak ada apa-apa, padahal dalam hati dan pikiran berkecamuk. Ya saya jawab sebisa saya “out of the box” kalo kata Kharis wkwk pertanyaannya apa… jawabannya apa… wkwk yang penting ada coretan di kertas.

Pertemuan pertama ini saya lalui dengan ketidakpahaman dan wajah yang penuh pencitraan. Dinginnya ac ruangan J203 dan gaya pak Taufan yang eksentrik ini membuat tidak mungkin untuk dilupakan. Rasa kecamuk dan ketidakpahaman didalam pikiran, serta buku Mankiw yang sudah ada ditangan menimbulkan rasa balas dendam untuk menguasai pelajaran.

………….

To be continued

nb: quotesnya pak taufan

“Think Like An Economist (Berpikirlah Seperti Seorang Ekonom)”.

Kira kira maksudnya tidak ada yang tidak mungkin didalam ekonomi.

Jawabannya adalah “Mungkin Saja…” hehehe….

Restorasi Meiji Pikiran (Pak Wurjanto yang Sistematis) – Coming Soon.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s